Rabu, 21 Oktober 2015

Sistem Informasi Psikologi

Sistem Informasi Psikologi

Menurut Gaol (2008), sistem informasi psikologi bertujuan mendapatkan pemahaman bagaimana manusia pembuat keputusan merasa dan menggunakan informasi formal.
Sistem informasi psikologi adalah sebuah sistem yang digunakan untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan psikologi yang dapat bermanfaat bagi penggunanya.

Contoh 1:
Sesuai dengan pengalam saya sebagai mahasiswi psikologi, sistem informasi berguna untuk bidang psikologi. Misalnya, ketika saya mempelajari salah satu tes inventori yaitu papikostik. Tes tersebut menggunakan teknologi komputer untuk mempermudah jalannya tes dan skoringnya, serta mudah untuk melihat diagramnya. Hasilnya akan menjadi lebih jelas di banding dibuat secara manual.

Contoh 2:
Seperti yang kita ketahui, internet  memberi beragam informasi. Informasi yang ditampilkan mencakup berbagai ilmu, tak terkecuali ilmu psikologi. Kita banyak menjumpai psikotes yang tercantum di internet dan dapat kita kerjakan secara online. Hal ini dapat menambah pengetahuan dan membantu pengguna internet untuk mempelajari seperti apa psikotes itu. Menurut saya, selain memberikan sisi positif, hal ini juga mengandung sisi negatif karna tidak seharusnya psikotes tersebar luas di internet mengingat sifatnya yang rahasia dan tes tidak didampingi oleh tenaga profesional selain itu, hasilnya belum tentu akurat.

Contoh 3:
Selain dapat mengerjakan psikotes secara online, kita dapat melihat cara pengerjaan dari tes-tes psikologi.  Misalnya, tes wartegg, Tes DAP, BAUM, dan HTP yang kini sudah banyak tertera di internet dan dapat dengan mudah kita akses. Selain dapat mengetahui cara pengerjaannya dengan baik, hal ini juga dapat memberikan penjelasan-penjelasan dr tes tersebut. Seperti psikotes, meskipun membawa manfaat agar kita menambah pengetahuan, namun hal ini juga tidak seharusnya ada, karna  tes ini bersifat rahasia jadi tidak seheusnya tersebar luas dan bebas.

Sumber : Gaol, C.J.L (2008). Sistem Informasi Manajemen. Jakarta: Grasindo.

Minggu, 11 Oktober 2015

Penerapan Sistem Informasi




Penerapan Sistem Informasi
Semua kegiatan yang dilakukan dalam segala bidang memerlukan adanya informasi. Demikian pula sebaliknya, semua kegiatan dalam berbagai bidang menghasilkan suatu informasi, yang berguna bagi ruang lingkup dalam bidang tersebut ataupun diluar bidang tersebut. Sistem informasi adalah seperangkat komponen yang saling berhubungan yang berfungsi mengumpulkan, memproses, menyimpan dan mendistribusikan informasi untuk mendukung pembuatan keputusan dan pengawasan (Husain & Wibowo, dalam Machmud 2013). Apabila sistem informasi dirancang dan dilaksanakan dengan baik, maka akan banyak manfaat yang diperoleh dari peranan sistem informasi pada semua bidang. Sistem informasi banyak digunakan dalam berbagai bidang, bidang-bidang tersebut antara lain:
a.    Sistem Informasi Manajemen
Sistem informasi manajemen adalah seluruh rangkaian aktivitas kerja sistem informasi yang membentuk satu kesatuan sistem dengan tujuan yang sama melalui proses penyimpanan, pengumpulan, pengolahan, sampai akhirnya mengasilkan informasi yang berguna bagi anggota organisasi (Machmud, 2013)
Manajemen menggunakan informasi untuk dua tujuan yaitu perencanaan dan pengawasan. Perencanaan terjadi sebelum pelaksanaan aktivitas organisasi. Tujuan yang ditentukan oleh proses perencanaan harus dicapai dengan aktivitas itu. Meskipun perencanaan meliputi semua tingkat organisasi, tetapi kebanyakan terjadi pada tingkat keputusan strategis dan taktis. Perencanaan banyak bergantung pada peramalan dan informasi dari luar. Pengendalian merupakana hal membandingkan hasil aktual dengan rencana yang ditentukan pada proses perencanaan.
Demikian pentingnya peranan sistem informasi manajemen dalam usaha pencapaian tujuan, sehingga jelaslah bahwa penggunaan dari sistem informasi manajemennya harus dikaitkan dengan usaha-usaha modernisasi, sedang poses modernisasi hanya dapat terjadi bila ditarik manfaatnya dari kemajuan yang telah dicapai dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
b.   Sistem Informasi Geografis
Sistem informasi geografis merupakan suatu sistem informasi yang berbasis komputer, dirancang untuk bekerja dengan menggunakan data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan) sistem ini meng-capture, mengecek, mengintegrasikan, memanipulasi, menganalisa, dan menampilkan data secara spasial mereferensikan kepada kondisi bumi (Aini, 2007).
Sistem informasi geografis dapat dimanfaatkan untuk mempermudah dalam mendapatkan data-data yang telah diolah dan terseimpan sebagai atribut suatu lokasi atau obyek. Data0data yang diolah dalam SIG pada dasarnya terdiri data spasial dan data atribut digital. Sistem ini merelasikan data spasial (lokasi geografis) dengan data non- spasial, sehingga para pengunanya dapat membuat peta dan menganalisa informasinya dengan berbagai cara. SIG merupakan alat yang handal untuk menangani data spasial, dimana dalam sig data dipelihara dalam bentuk digital sehingga data ini lebih padat dibanding dalam bentuk peta cetak, table, atau dalam bentuk konvensional lainnya yang akhirnya akan mempercepat pekerjaan dan meringankan biaya yang diperlukan (Barus & Wiradisastra, dalam Aini 2007).

Sumber:
Aini, Anisah. (2007). Sistem informasi geografis pengertian dan aplikasinya. Yogyakarta: STMIK AMIKOM
Machmud, Rizan. (2013). Peranan penerapan sistem informasi manajemen terhadap efektivitas kerja pegawai lembaga pemasyarakatan narkotika. Jurnal Fakultas Ekonomi dan bisnis Universitas Negeri Gorontalo. Vol. 9. No. 3

Senin, 06 Juli 2015

Terapeutik

1.    1.   Gangguan apa yang terjadi pada klien?
Berdasarkan jurnal tersebut, klien adalah pasien dari RSJ Provinsi Riau. Data yang diperoleh dari RSJ Provinsi Riau juga menunjukkan bahwa jumlah pasien rawat inap tiap tahun mengalami peningkatan, sedangkan jumlah pasien rawat jalan cenderung tetap / tidak terlalu banyak berubah. Menurut Kepala Ruangan Kampar RSJ Provinsi Riau, peningkatan jumlah penderita gangguan jiwa ini disebabkan oleh latar belakang pasien itu sendiri. Hal ini bisa dikarenakan lingkungan tempat tinggal yang tidak baik, kondisi sosial ekonomi yang semakin hari semakin sulit, kondisi keluarga yang tidak harmonis, serta masalah pendidikan yang semakin hari kurang mendapat perhatian

2. 2.      Metode terapeutik apa yang digunakan?
Proses pemulihan pasien gangguan jiwa di RSJ Provinsi Riau biasanya dilakukan dengan dua cara, yaitu terapi medik yang menggunakan obat-obatan dan terapi non medik yang menggunakan komunikasi terapeutik. Komunikasi yang digunakan dalam proses pemulihan dalam dunia kesehatan terutama dalam keperawatan jiwa dikenal dengan sebutan Komunikasi Terapeutik. Komunikasi terapeutik merupakan hal yang utama dalam perawatan pasien, begitu juga dalam keperawatan jiwa. Dengan adanya komunikasi terapeutik diharapkan dapat membantu memperbaiki masalah yang dialami pasien secara berangsur-angsur.

3. 3.      Apa saja peran dari orang-orang rela merawat, dalam melakukan terapeutik?
Dari contoh kasus yang telah dijabarkan diatas, peran utama tertuju pada perawat yang merawat pasien pada RSJ tersebut. Untuk melakukan komunikasi terapeutik yang efektif perawat harus memiliki keterampilan yang memadai dan memahami dirinya sendiri, sehingga perawat dapat menghadapi dan menghargai keunikan pasien. Dengan cara perawatan yang efektif diharapkan perawat dapat membantu permasalahan yang dihadapi pasien dan permasalahan tersebut berangsur-angsur akan membaik. Setelah membaik dapat kembali kepada kehidupan normalnya.

4.4   Hambatan apa yang terjadi dalam melakukannya?
faktor penghambat pelaksanaan komunikasi terapeutik adalah kondisi psikis pasien seperti kesulitan yang harus dihadapi oleh seseorang karena hubungannya dengan orang lain, kesulitan karena persepsinya tentang kehidupan dan sikapnya terhadap dirinya sendiri-sendiri, lalu kondisi perawat yang tidak semua mempunyai keterampilan yang memadai dan memahami dirinya dengan baik dengan harapan perawat dapat menghadapi, mempersepsikan, bereaksi, dan menghargai keunikan pasien. Hambatan lainnya adalah bahasa, dan lingkungan.

5.     5.  Dampak apa saja yang menandakan bahwa klien mengalami pemulihan?
Terjadinya gangguan jiwa ini dipengaruhi oleh faktor predisposisi diantaranya perkembangan dan sosial budaya. Kegagalan dapat mengakibatkan individu tidak percaya pada orang lain, ragu, takut salah, pesimis, putus asa terhadap orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan, dan merasa tertekan. Keadaan ini dapat menimbulkan perilaku tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain, lebih menyukai berdiam diri, menghindar dari orang lain, dan kegiatan sehari-hari menjadi terabaikan. Setelah dilakukannya terapi, klien pada RSJ berangsur-angsur mulai dapat percaya dengan orang lain, tidak menghindar dari orang lain lagi.

Dapus:

Syahroza, Afdanisa dan Welly Wirman. KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DALAM PEMULIHAN PASIEN GANGGUAN JIWA JENIS ISOLASI SOSIAL DI RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI RIAU. 

Minggu, 03 Mei 2015

Psikoterapi



PSIKOTERAPI
I.                   Carilah penjelasan yang lengkap tentang terapi keluarga, berisi tentang:
a.       Pengertian terapi keluarga
Terapi keluarga merupakan terminologi yang mengacu pada metode yang dilakukan pada keluarga dengan berbagai kesulitan biopsikososial. Terapi keluarga mulai berkembang diawal tahun 1950-an, merupakan pendekatan psikoterapeutik yang fleksibel dan dapat diaplikasikan pada masalah-masalah yang berfokus pada anak dan orang dewasa.
Terapi keluarga adalah model terapi yang bertujuan mengubah pola interaksi keluarga sehingga bisa membenahi masalah-masalah dalam keluarga. Terapi keluarga muncul dari observasi bahwa masalah-masalah yang ada pada terapi individual mempunyai konsekuensi dan konteks sosial.
Menurut Kartini Kartono dan Gulo (dalam Somaryati dan Astutik) terapi keluarga adalah suatu bentuk terapi kelompok dimana masalah pokoknya adalah hubungan antara pasien dengan anggota-anggota keluarganya oleh sebab itu seluruh anggota keluarga dilibatkan dalam usaha penyembuhan.
b.      Cara melakukan terapi keluarga
1.      Pemeragaan: memperagakan ketika masalah itu muncul. Misalnya ayah dan anak anaknya sehingga mereka saling diam bertengkar, maka terapis membujuk mereka untuk berbicara setelah itu terapis memberikan saran-sarannya dan bisa disebut dengan psikodrama. Dan komunikasi dalam keluarga paling penting.
2.      Homework: mengumpulkan seluruh anggota keluarga agar saling berkomunikasi diantaranya.
3.      Family Sculpting: cara untuk mendekatkan diri dengan anggota keluarga yang lain dengan cara nonverbal.
4.      Genograms: sebuah cara yang bermanfaat untuk mengumpulkan dan mengorganisasi informasi tentang keluarga geonograms adalah sebuah diagram tersturktur dari sistem hubungan tiga generasi keluarga. Diagram ini sebagai roadmap dari sistem hubungan keluarga. Hal ini berarti memahami masalah dalam bentuk grafik.

c.       Manfaat terapi keluarga
1.      Memperbaiki hubungan interpersonal bagi klien
2.      Membantu konseli (anggota keluarga) untuk mencapai individualis, membuat dirinya menjadi hal yang berbeda dari sistem keluarga
3.      Untuk memfasilitasi resolusi masalah dan mendukung pengembangan keluarga yang sehat dengan fokus utama pada hubungan antara individu dengan masalah serta anggota signifikan dari keluarga dan jaringan sosialnya.
4.      Untuk mengubah struktur dalam keluarga dengan cara menyusun kembali kesatuan dan menyembuhkan perpecahan yang terjadi dalam suatu keluarga.
d.      Kasus-kasus yang diselesaikan dalam terapi keluarga
1.      Kasus krisis pada keluarga yang mempengaruhi seluruh anggota keluarga
2.      Ketidak harmonisan seksual atau perkawinan pada pasangan suami istri
3.      Konflik keluarga dalam hal norma atau keturunan
e.       Cari dan rangkaian satu contoh yang menggambarkan terapi keluarga
Kasus:
Don adalah seorang ayah yang sangat menyayangi anak-anaknya. Tetapi ia tidak merasa demikian beberapa waktu terakhir karena ia merasa bahwa anak laki-lakinha telah menjadi seorang anak yang nakal. Angela (istri Don) begitu heran dengan kelakuan anak laki-lakinya yaitu Ben. Namun yang membuat ia lebih heran lagi adalah mengapa suaminya mengizinkan Ben untuk minum minuman keras. Heather (Anak perempuan Don) mengatakan bahwa hubungannya dia dengan kedua orang tuanya sangat baik. Namun berbeda dengan hubungannya dengan kakaknya Ben, ia merasa bahwa hubungannya sangat gila. Ben adalah seorang kakak yang pengangguran yang mempunyai hubungan yang sangat tidak baik dengan adik perempuannya.
Proses Terapi:
                        Terdapat 4 orang yang terlibat dalam proses terapi. Seorang terapis wanita, Don, Ben, dan Heather. Terapi dilakukan di sebuah ruangan tertutup. Posisi duduk mereka membentuk setengah lingkaran, dengan ujung paling kiri yaitu Ben, kemudian di sebelagnya adalah terapis, sebelah terapis adalah heather, dan kemudian di ujung paling kanan adalah Don. Awalnya, terapis mengatakan bahwa penting sekali membahas masalah hubungan antar anggota keluarga tersebut. Kemudian terapis juga meluruskan tentang peran orang tua dan anak dalam sebuah keluarga. Hal ini ditekankan kembali karena Don cenderung membela Heather, anak perempuannya. Akan tetapi pada akhirnya Don dapat menyadari sikap seperti apa yang harus ia lakukan sebagai orang tua yang baik. Setelah itu terapis meminta ayah dan ben untuk bertukar posisi duduk agar Ben dan heather dapat duduk berdampingan.
                        Terapis mempersilahkan Heather untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya terhadap sosok Ben. Heather mengatakan bahwa ia merindukan sosok kakanya yang seperti dulu dan ia merasa bahwa ia sudah tidak mengenali kakanya lagi, yang sekarang ini dianggap sering berperilaku menyimpang. Setelah Heather selesai mengungkapkan apa yang ia rasakan dan pikiran kemudian terapis meminta Ben untuk menanggapi apa yang disampaikan oleh adik perempuanya tersebut. Dan terungkaplah bahwa selama ini ben merasa bahwa selama ini dia diperlakukan secara berbeda dengan adiknya. Setelah mendengar pengakuan dari kedua kaka beradik tersebut, terapis pun berusaha memberikan insight pada snag ayah tentang akar permasalahan yang terjadi di antara Ben dan Heather. Dan di akhir sesi terapi, hubungan antar anggota keluarga tersebut pun terlihat menjadi lebih hangat.

Daftar Pustaka :
Somaryati. & Astutik, S. (2013). Family therapy dalam menangani pola asuh orang tua yang salah pada anak slow learner. Jurnal bimbingan dan konseling islam. Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Vol.03. No.01.
Sawitri, D. R. (2009). Posmodernisme dan family therapy berbasis belief system dan narratives. Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro. Vol.5. No.01.

Selasa, 31 Maret 2015

Psikoterapi (tugas ke-1)


PSIKOTERAPI
I.                   Ulasan mengenai 4 (empat) pendekatan di dalam psikoterapi
a.       Pendekatan psikoanalisa di dalam psikoterapi
Sebagai suatu metode psikoterapi, psikologi berakar dari teori psikoanalisis Sigmund Freud, yang menekankan pentingnya ketidaksadaraan sebagai penyebab timbulnya berbagai masalah mental dan emosional. Psikoanalisis adalah terapi klasik, jangka panjang, yang bertujuan mengubah kepribadian mayor dengaan cara mengidentifikasi dan memodifikasi konflik-konflik tidak sadar dengan asosiasi bebas, menganalisis transferensi dan resistensi, serta interpretasi mimpi. Psikoterapi berorientasi psikoanalitik tujuannya serupa dengan psikoterapi suportif, yaitu menghilangkan gejala, dan serupa pula dengan psikoanalisis dalam upaya memahami secara dinamik konflik-konflik tidak sadar pasien dalam menggunakan analisis transferensi dan interpretasi mimpi.
b.      Pendekatan psikologi belajar di dalam psikoterapi
Terapi belajar berdasarkan teori belajar, yang mendalilkan bahwa problem-problem perilaku merupakan sesuatu yang didapat secara involunter, akibat pembelajar yang tidak tepat. Terapi berkonsentrasi pada perubahan perilaku (modifikasi perilaku) lebih dari pada mengubah pola pikir tidak sadar atau sadar, dan untuk mencapainya terapi bersifat directive (yaitu pasien menerima banyak instruksi dan pengarahan) beberapa teknik spesifik yang digunakan yaitu:
1.      Operant conditioning : teknik terapi ini berdasarkan pada evaluasi dan modifikasi hal-hal yang terjadi dahulu dan konsekuensi terhadap perilaku klien dengan teliti. Perilaku yang diharapkan didukung dengan penguatan positif dan dilaranf dengan penguatan negatif. Cara baru untuk merespon pasien ini dapat diajarkan kepada orang-orang yang tinggal bersama klien.
2.      Terapi aversi : klien diberikan stimulus yang tidak menyenangkan pada saat perilakunya yang tidak dikehendaki muncul. Beberapa dari cara ini secara hukum dilarang. Suatu teknik pengganti, yaitu sensitisasi tertutup, lebih bisa diterima, karena menggunakan pikiran-pikiran yang tidak menyenangkan sebagai stimulus aversif.
3.      Terapi implosif : klien dengan kecemasan yang disebakan situasi, secara langsung dihadapkan dengan situasi tersebut untuk jangka waktu tertentu atau dihadpkan di dalam imajinasi.
4.      Desensitisasi sistematik : klien dengan kecemasan atau fobia dihadapkan pada suatu hierarki yang bertahap terhadap situasi atau objek yang menakutkan, dimulai dari yang paling tidak menakutkan. Pasien akhirnya belajar untuk mengatasi objek atau situasi yang lebih menakutkan.
c.       Pendekatan psikologi humanistik di dalam psikoterapi
Pendekatan ini menekankan pada beberapa titik perhatian yaitu, perasaan (emosi pribadi dan apresiasi estetik), hubungan sosial (menganjurkan pada persahabatan dan kerjasama, serta bertanggung jawab), intelek, dan aktualisasi diri. Tokoh dalam psikologi humanistik ini adalah Abraham Maslow, Carl Rogers, dan Arthur Combs. Dalam pendekatan humanistik memusatkan perhatian pada manusia bahwa manusia “contains the potentialities for healthy and creative growth”. Dalam person centered pandangan ahli terapi klien bersifat positif, yaitu manusia memiliki potensi untuk aktualisasi diri, sehingga suasana yang nyaman dan “hadir” bersama klien perlu diciptakan. Dalam keadaan ketika klien merasakan “being accepted, being understood, being respected”, maka klien akan mampu memunculkan kemampuan mengatasi masalah perilakunya serta mampu pula mengaktualisasi dirinya.
d.      Pendekatan psikologi kognitif di dalam psikoterapi
Terapi kognitif adalah terapi yang mempergunakan pendekatan terstruktur, aktif, direktif, dan berjangka waktu singkat, untuk menghadapi berbagai hambatan dalam kepribadian. Tokoh dari terapi kognitif adalah Aaorn Beck seorang psikiater dengan latar belakang psikoanalisis dari University of Pennsylvania, dimana ia memimpin Center for Cognitive Therapy. Terapi ini didasarkan pada teori bahwa afek dan tindakan seseorang, sebagian besar ditentukan oleh bagaimana seseorang tersebut membentuk dunianya. Pikiran seseorang memberikan gambaran tentang rangkaian kejadian di dalam kesadarannya. Gejala perilaku yang berkelainan atau menyimpanng, berhubungan erat dengan isi pikiran. Terapi kognitif dipergunakan untuk mengidentifikasi, memperbaiki gejala perilaku, dan fungsi kognisi yang terhambat, yang mendasari aspek kognitifnya yang ada.

II.                Kasus-kasus yang bisa ditangani oleh 4 (empat) pendekatan di dalam psikoterapi
a.       Psikodinamik
Klien  adalah seseorang yang memiliki trauma masa lalu. Klien pernah mengalami trauma diperkosa oleh pamannya sehingga klien sangat membenci pamannya dan berusaha melupakan kejadian tersebut. Pada saat terapi, terapis mencoba menggali lebih dalam informasi dari klien dengan membuat klien mengingat kembali kejadian tersebut sehingga dapat memancing emosi klien, maka klien diberikan katarsis (pelampiasan). Pada saat menjalankan terapi klien ditempatkan disebuah ruangan dimana klien dapat mengekspresikan kemarahannya seperti berteriak sekeras-kerasnya didalam ruangan dan melakukan katarsis atau meninju boneka (benda yang dijadikan katarsis). Contoh tersebut merupakan contoh kasus dari asosiasi bebas dimana klien dibiarkan untuk memunculkan ketidaksadarannya. Hal ini juga berkaitan dengan proses katarsis.
b.      Behavioristik
Seorang ibu ingin mengajarkan bagaimana cara berhitung, ibu tersebut mengamati terlebih dahulu bagaimana keadaan fisik anaknya dan kemampuan dasar yang dimiliki. Ibu akan berfikir ia sebagai subjek dan anaknya sebagai objek. Fakta netral harus dimiliki oleh sang ibu dalam menghadapi anaknya. Sebuah pemikiran yang bersih dari unsur-unsur subjektifnya. Ditahap ini materi-materi pembelajaran berhitung akan diberikan sebagai bentuk stimulus dari ibu terhadap anaknya. Ibu akan menjelaskan dan mencontohkan tentang bagaimana urutan berhitung sebab-akibat dalam pengajaran aka didapatkan hasil. Rangkaian sebab (pemberian stimulus) – akibat ini akan menghasilkan sbeuah respon dari anaknya dimana respon ini akan membentuk sebuah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pembelajaran. Kasus singkat tersebut adalah contoh dari sebuah pembelajaran di rumah dengan penerapan teori behaviorisme. Ibu mengajari sebuah stimulus berupa materi-materi pengajaran dan mengharapkan akan mendapatkan sebuah respon yang berupa perubahan tingkah laku dari anak-anaknya. Perubahan tingkah laku dalam bentuk dari ketidaktahuan dan ketidakmampuan untuk mempraktekannya pelajaran yang diberikan berubah menjadi mampu untuk mempraktekannya. Ibu tidak melihat bagaimana proses anaknya belajar, ini hanya melihat bagaimana hasil akhir yang diperoleh. Reinforcement positive atau negative yang akan diberikan tergantung dari bagaimana perubahan tingkah laku yang dihasilkan.
c.       Humanistik
Klien bernama Leon seorang mahasiswa, mungkin melihat dirinya sebagai dokter masa depan, tetapi nilainya yang dikeluarkan dari sekolah kedokteran ternyata dibawah rata-rata. Perbedaan antara konsep dirinya dengan ideal konsep dirinya dan realitas kinerja kademis yang buruk dapat menyebabkan kegelisahan dan kerentanan pribadi, yang dapat memberikan motivasi yang diperlukan untuk masuk terapi. Leon harus melihat bahwa ada masalah atau, setidaknya bahwa ia tidak cukup nyaman untuk menghadapi penyesuaian psikologis untuk mengeksplorasi kemungkinan untuk perubahan. Konseling berlangsung, klien dapat mengeksplorasi lebih luas keyakinannya dan perasaannya. Ia dapat mengekspresikan ketakutannya, rasa bersalah, kecemasan, malu, kebencian, kemarahan, dsb. Emosi diangap terlalu negatif untuk menerima dan memasukkan ke dalam dirinya. Dengan terapi, orang disortir kurang dan pindah ke penerimaan yang lebih besar dan integrasi perasaan yang saling bertentangan dan membingungkan. Ia semakin menemukan aspek dalam dirinya yang telah disimpan.
Sebagai klien ia merasa dimengerti dan diterima, ia menjadi kurang defensif dan menjadi lebih terbuka terhadap pengalamannya. Karena mereka merasa lebih aman dan kurang rentan, ia menjadi lebih realistis, menganggap orang lain dengan akurasi yang lebih besar, dan menjadi lebih mampu untuk memahami dan menerima orang lain. Individu dalam terapi datang untuk menghargai dirinya secara lebih dan perilakunya menjukkan lebih banyak fleksibilitas dan kreativitas. Ia menjadi kurang peduli tentang memenuhi harapan orang lain, dan dengan demikian mulai berperilaku dengan cara yang lebih benar untuk diri sendiri. Dapat lebih bebas untuk membuat keputusan, dan semakin percaya diri masuk untuk mengelola kehidupan ia sendiri.
Dari contoh kasus Leon dapat diambil kesimpulan bahwa salah satu alasan klien mencari terapia dalah perasaan tidak berdaya dan ketidakmampuan untuk membuat keputusan atau secara efektif mengarahkan hidupnya sendiri. Mereka mungkin berharap untuk menemukan “jalan” melalui bimbingan terapis. Dalam kerangka orang terpusat, namun klien segera belajar bahwa mereka dapat belajar menjadi lebih bebas dengan menggunakan hubungan untuk mendapatkan diri yang lebih besar dari pemahaman.
d.      Kognitif
Jenifer seorang wanita berumur 32 tahun yang sudah menikah. Telah dikirim ke klinik sebagai pasien luar oleh dokter karena selalu berusaha untuk bunuh diri. Dua minggu yang lalu jenifer secara berlebihan telah meminum paracetamol sejumlah 40 tablet dan baru menceritakan hal tersebut kepada suaminya keesokan harinya setelah ia muntah-muntah, ia ditampung di unit peracunan diri sendiri di rumah sakit umum selama 2 hari kemudian ia merasa bertambah ingin bunuh diri dan bertambah taku. Jenifer dan suaminya telah mengikuti pertemuan terapi perkawinan dua kali seminggu selama sembilan bulan. Peretemuan-pertemuan itu secara rinci telah menemukan hubungan yang sangat dekat antara jenifer dengan orang tuanya  dan adanya keinginan memisahkan diri dengan mereka. Tidak lama setelah meminum obat yang berlebihan itu jenifer dan suaminya berkunjung kerumah orang tuanya untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi. Hal ini membuat suasana kunjunga mereka menjadi kacau, bahkan jenifer mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan orang tuanya. Selanjutnya ia merasa tertekan dan semakin ingin bunuh diri karena merasa telah kehilangan cinta dan dukungan dari orang tuanya dan merasa tidak mampu untuk hidup lebih lama lagi. Ia merasa tertekan dan putus asa selama tiga bulan. Lalu klien menjalankan terapi yang dijalani dengan melakukan proses wawancara dengan merumuskan masalah dan bersama-sama mencari jalan keluar bersama dengan terapis. Setelah wawancara antara terapis dan klien, terapis perlu meringkas dan terapi kognitif yang sifatnya mendiagnosis dalam suatu analisis fungsional hal ini akan membantu terapis untuk membuat rumusan sementara tentang kasusnya.
III.             Pandangan saya terhadap kasus-kasus yang ditangani oleh 4 (empat) pendekatan di dalam psikoterapi (contoh kasus pada no. II)
a.       Psikodinamik
Menurut saya, pada contoh kasus psikodinamika, sudah tepat ditangani dengan pendekatan tersebut, karena klien di pancing untuk mengeluarkan emosinya sehingga traumanya dapat dikeluarkan dan tidak terpendam lagi di dalam dirinya.

b.      Behavioristik
Menurut saya, pada contoh kasus behavioristik, sudah tepat jika menggunakan pendekatan behavirostik. Karna tujuan ibu adalah hasil dari perubahan tingkah laku dimana diterapkan reinforcement yang merupakan bagian dari pendekatan behavirostik. Pemberian reinforcement sangat tepat untuk mengubah perilaku seseorang karna adanya stimulus yang diberikan agar respon yang diberikan sesuai dengan perilaku yang diharapkan.
c.       Humanistik
Menurut saya, contoh kasus ketiga tepat jika menggunakan pendekatan humanistik. Karena humanistik bersifat menyelesaikan masalah saat ini, dan pendekatan humanistik tepat diberikan kepada klien yang mengalami kecemasan, ketakutan, rasa bersalah,dan malu terhadap masalah yang sedang dihadapi. Dalam pendekatan humanistik terapis memberika masukkan yang sesuai dengan keadaan klien pada saat ini, mendengarkan dengan baik atas setiap keluahan dari klien sehingga klien merasa diterima dan dimengerti.
d.      Kognitif
Menurut saya dalam kasus jenifer ini tepat ditangani dengan menggunakan metode kognitif. Dalam kasus yang ditangani terapis harus melakukan wawancara guna mendapatkan informasi yang lebih mendalam atas permasalahan klien. Pemikiran klien yang ingin bunuh diri harus dihilangkan, agar depresi yang dialami berangsur-angsur hilang. Terapis mencari informasi tentang semua permasalahan yang dialami klien lalu sama-sama mencari jalan keluar.

Daftar Pustaka:
Gunarsa, Singgih. (2007). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta:Gunung Mulia
Tom, David. (2009). Psikiatri, Edisi 6. Jakarta:EGC
       Uci Sanusi. (2013). Pembelajaran dengan pendekatan humanistik. Jurnal pendidikan agama islam-
ta’lim. Vol.11 no.2.